Pada suatu malam, Rabi'ah bersujud dan memanjatkan doa dan tanpa disengaja doa yang dia panjatkan terdengar oleh tuannya doanya kira-kira seperti berikut "Ya Allah, engkau tahu bahwa hasrat hatiku adalah dapat mematuhi perintah-Mu dan mengabdi kepada-Mu tapi engkau telah menyerahkan diriku dibawah kekuasaan seorang hamba-Mu" Karena tuannya melihat (mengintip) dan mendengar sendiri peristiwa tersebut, saat matahari merangkak di sudut cakrawala dipanggillah Rabi'ah dengan sikap yang lembut, Rabi'ah pun dibebaskan (dimerdekakan) dan diizinkan pergi meninggalkan tuannya.
Rabi'ah pun merdeka dan pergi mengembara dengan bebas, ada yang menyebutkan bahwa Rabi'ah kemudian mencari nafkah dengan memainkan musik seruling, karena konon Rabi'ah pandai dalam memainkan seruling. Pada saat itu , di Basrah tempat Rabi'ah berada permasalahan bernyanyi dan bermain musik merupakan permasalahan Subhat, ada ulama yang memperbolehkan dan adapun yang tidak membolehkannya. Rabi'ah pun perlu makan untuk hidup, dan untuk mendapatkan makanan bermain serulinglah yang merupakan andalan Rabi'ah, akan tetapi kekhawatiran Rabi'ah tentang kesibukan bermain seruling dan bernyanyi untuk mencari nafkan dapat mengganggu ibadah dan menjauhkannya dari Allah SWT, sehingga Rabi'ah pun bingung, ditengah kebingungan ini Rabi'ah mendengar suara burung merdu, indah dan menyentuh perasaannya, hal ini membuat Rabi'ah berfikir bahwa kebiasaan bernyanyi dan bermain mempunyai manfaat menyejukkan hati yang mendengarnya, baginya ocehan dan suara burung yang merdu adalah doa dan tasbih kepada sang pencipta.
Bersambung ke Kisah Rabi'ah Al-Adawiyah | Perintis Cinta Ilahi [7]
©2013 Copyright Ciniki Ronk A. ILLank
0 komentar :
Post a Comment